Deria Pagi Bundaran Park KLCC
By: Titin Sabillah
Langit biru, ditutupi awan yang berkabus putih, namun menyajikan kejernihan warna seperti kapas putih yang hendak disulam menjadi kain yang indah. Sungguh, keindahan itu selalu ada untuk hati yang mau memaknainya. Bundaran KLCC Park baru saja basah disirami air oleh penjaganya. Rerumputan hijau segar bak disapa embun di pagi hari.
Begitu juga dengan insan yang berlarian di pagi itu, dengan harapan larian-larian kecil yang berirama gontai dapat menyegarkan tubuh demi terwujudnya kesehatan yang amat berharga. Bahwa lari pagi diujung minggu merupakan salah satu kegiatan eksersais setelah seminggu sibuk bekerja.
Lain hal nya dengan seorang wanita pemerhati pagi saat itu, dipagi itu entah kenapa sesampai di Taman, semangatnya sedijit berkurang, karena melihat begitu ramai orang-orang seperti adanya kegiatan kompetisi maraton. Jadi, dia hanya sekedar berlarian dibundaran taman hijau yang berdiameter lebih kurang dua puluh lima meter.
Satu putaran taman kecil itu telah dilalui, dia akan tetap berusaha melanjutkan keputaran kedua, namun perhatiannya teralihkan dengan seorang anak kecil yang berada dalam kereta yang didorong ibunya sambil joging dan bertepatan didepan wanita itu, anak itu memberi isyarat "kejar aku" sehingga muncul tawa kecilnya seolah-olah orang itu akan menangkapnya. Hatinya merasa tergelitik dengan tingkah anak itu. Bahwa ada saja yang bisa membuat dia tertawa ketika pikiran agak mengering dari gersangnya kehidupan.
Jam elektronik besar yang berada dibangunan sebelah KLCC menunjukan jam 8.30 pagi. Sudah satu setengah jam dia lari, berjalan, lari lagi dan berjalan lagi di taman itu. Keringat bercucuran dengan nafas sedikit tersengal sehingga memutuskan untuk duduk berhenti di tempat duduk yang telah disediakan dibawah pohon didekat taman itu. Sambil menggoyang-goyangkan kaki untuk melenturkan otot kakinya, mata tertuju kembali ke arah jam elektronik itu. Angka-angkanya terus berubah, detik demi detik terus berjalan tanpa menghiraukan apapun, dan terlintas dipikirannya saat itu, bahwa waktu akan terus berjalan dan tiada siapa yang bisa menghalanginya.
Dia teringat lagi dengan cuplikan dari Novel Rindu karya Tere Liye "bagaimanapun keadaan kita, mau sedih, bahagia, waktu tidak pernah berhenti menunggu. Waktu tetap berjalan". Jadi sampai saat ini, segala sesuatu itu ada ditanganmu, mau menggenggam kebahagiaan dan melepaskan kesedihan atau sebaliknya.
Bibir bergetar, ada sedikit perih menyelinap dihatinya, anak sungai diujung mata mengeluarkan bulir air yang sudah tidak bisa ditahan kemudian menyeruak dicelah-celah jendela mata hingga jatuhlah menjadi air mata. Dan saat itu dia menangis walau mencoba tuk menahannya. Dengan isak dan kedu dia berusaha menggantikan dengan tarikan nafas panjang yang dalam dan melepaskannya dengan perlahan. Terasa sedikit rongga kelegaan didadanya.
Seperti yang disampaikan Tere Liye dalam novelnya yang berjudul Sunset Bersama Rosie "menangis tidak selalu simbol lemah tak berdaya. Menangis dalam situasi tertentu justru adalah simbol kekuatan, kesabaran dan kehormatan". Maka menangislah, jika hal itu dapat memberi kekuatan dan kelegaaan walau hanya sesaat.
Di pagi yang indah, ia terpanah dengan tatapan kosong dan bergumam dalam hatinya. "Apa yang hendak aku lakukan?. "Aku harus bagaimana? aku harus seperti apa.?" Seribu tanya untuk dirinya sendiri, tapi belum ada ia temukan jawabannya. Namun fikirannya menerawang lagi. Dia teringay dengan salah satu status fb adiknya:"Menjadi langit ketinggian, menjadi tanah kerendahan, menjadi matahari gak sanggup, menjadi bulan kadang cahayanya redup, tapi akan lebih baik jadi diri sendiri". Lakukan apa yang harus dilakukan, tidak perlu menjadi orang lain, dirimu ini adanya. Orang yang menyayangi kamu akan menerima apapun keadaanmu, dan sebaliknya. Begitulah yang ada difikirannya.
Dia mengambil keputusan, bahwa hidup untuk dijalani bukan ditangisi karena hidup itu begitu indah untuk ditangisi. Dengan menyemangati diri sendiri, dia beranjak dan berlalu pergi untuk melanjutkan rutinitasnya, karena hidup itu tetap dilanjutkan selagi nyawa dikandung badan.
Seperti yang disampaikan Tere Liye dalam novelnya yang berjudul Sunset Bersama Rosie "menangis tidak selalu simbol lemah tak berdaya. Menangis dalam situasi tertentu justru adalah simbol kekuatan, kesabaran dan kehormatan". Maka menangislah, jika hal itu dapat memberi kekuatan dan kelegaaan walau hanya sesaat.
Di pagi yang indah, ia terpanah dengan tatapan kosong dan bergumam dalam hatinya. "Apa yang hendak aku lakukan?. "Aku harus bagaimana? aku harus seperti apa.?" Seribu tanya untuk dirinya sendiri, tapi belum ada ia temukan jawabannya. Namun fikirannya menerawang lagi. Dia teringay dengan salah satu status fb adiknya:"Menjadi langit ketinggian, menjadi tanah kerendahan, menjadi matahari gak sanggup, menjadi bulan kadang cahayanya redup, tapi akan lebih baik jadi diri sendiri". Lakukan apa yang harus dilakukan, tidak perlu menjadi orang lain, dirimu ini adanya. Orang yang menyayangi kamu akan menerima apapun keadaanmu, dan sebaliknya. Begitulah yang ada difikirannya.
Dia mengambil keputusan, bahwa hidup untuk dijalani bukan ditangisi karena hidup itu begitu indah untuk ditangisi. Dengan menyemangati diri sendiri, dia beranjak dan berlalu pergi untuk melanjutkan rutinitasnya, karena hidup itu tetap dilanjutkan selagi nyawa dikandung badan.
#NarasiPagi
#CeritaSabillah
#CeritaSabillah

No comments:
Post a Comment