Sunday, 29 March 2020

SENJA PUNYA CERITA

SENJA MENYAPA
By: titin sabillah

Matahari berjalan perlahan menuju ufuk barat, seolah-olah meninggalkan rombongan awan, yang sedari tadi diam terpaku menyaksikan perjalanannya. Namun matahari terus berangsur pergi seakan-akan menenggelamkan diri ke dasar laut. Cahaya remang-remang temaram menyelimuti dan menampakkan cahaya kemilau di langit jingga. Dan dalam sesaat berangsur pergi meninggalkan rona bayangan merah serta akan menyajikan gelap pertanda datangnya malam.
Disela-sela waktu singkat inilah senja menyapa pada siang yang akan berlalu "ku tau, kau kan selalu pergi dikala aku datang menghampirimu wahai siang, tapi itulah hakikatnya, maka suka tidak suka dan mau tidak mau aku akan menyatakan selamat jalan siang" dan siangpun berlalu pergi dan meyatakan "selamat datang senja".

Di waktu senja ini juga, para nelayan ada yang baru memulai perjuangan dan berharap rezki datang menghampiri. Namun ada juga para nelayan yang kembali pulang dengan membawa secuil harapan untuk yang telah menunggunya dirumah.

Tidak ada yang salah dengan senja. Hanya saja waktu sesaat yang menandakan pergantian siang dan malam. Tapi senja mengantar kesunyian dan menawarkan keindahan. Sehingga tumbuh rasa takjub setiap yang memandang. Senja juga mengajak hati yang rindu untuk segera pulang keperaduannya. Senja mengajarkan kita bahwa keindahan tidak selalu datang di awal. Bahkan senja memberikan kedamaian, tidak pernah mengecewakan setiap insan yang menatapnya.

Warna jingga senja menggambarkan betapa hebat perjuangan dalam merentasi cakrawala kehidupan.  Warna jingga juga menyampaikan bahwa tak selamanya terang bersinar menerangi, tapi akan datang pekat malam yang harus kita lalui. Diwaktu ini jugalah sang burung mulai pulang kesarangnya, tuk beristrahat setelah seharian berjuang tuk mencari makan, tetapi sang kelelawar baru memulai perjuangan tuk menyambung hidup berterbangan mencari makan.


Senja yang singkat menyapa kesunyian relung hati, seolah mengusik rasa yang enggan untuk pergi. Hati sering berkata, adakah senja memberikan sebuah harapan seperti kemilaunya cahaya di langit jingga, untuk sebuah penantian bagi nak sang pengembala. Namun bibir bergumam, "nikmati saja waktu senja yang akan membelai jiwa-jiwa yang tenang".

Sekali lagi disampaikan, bahwa senja adalah waktu yang singkat antara pergantian siang dan malam. Namun patut kita tahu, waktu senja punya banyak pesan yang bisa kita ambil darinya dan punya cerita yang bisa kita renungkan.  Di waktu senja ini juga kita bisa merenungkan bahwa seharian waktu sudah kita lewati, apa yang kita petik dari setiap hal yang kita lakukan?, apa yang bisa kita ambil hikmah perjalanan hidup hari ini?, apakah kita sudah melakukan yang terbaik hari ini?, apakah kita sudah memberikan satu manfaat dan nilai bagi sesama?, atau hanya sekedar melewati masa yang bergulir begitu saja tanpa ada makna. Tepuk dada dan jawab sendiri.

Di waktu senja yang singkat ini juga kita berharap bahwa senja  akan mengantarkan kita pada malam yang tenang, meskipun malam gelap dan terasa mencekam, tapi malam waktu untuk beristirahat dari kesibukan dan kelelahan dunia, dan juga waktu untuk mengintropeksi diri dan berharap hari esok datang dengan lebih bermakna dan penuh dengan cinta.

Narasi Imajinatif
#gadih_minang

Saturday, 21 March 2020

Bunga Di Taman Hiasan

Bunga Tetaplah Bunga

Bunga adalah alat perkembangbiakan tumbuhan biji tertutup yang berfungsi untuk menjadi perantara bagi penyatuan gamet jantan dan gamet betina yang diistilahkan sebagai pembungaan. Hal ini penjelasan secara Biologi.
Secara umum, bunga adalah makhluk hidup yang termasuk dalam jenis tumbuh-tumbuhan. Bunga bisa hidup dan tumbuh subur di mana saja. Apapun jenis, bentuk dan warnanya. Bagaimanapun keadaan dan dan dimanapun keberadaannya namum "bunga tetaplah bunga". Bunga menjadi salah satu penentu nilai suatu tumbuhan sebagai tanaman hias.
Secara imajinatif menyatakan bahwa bunga punya nasib yang berbeda-beda. Jika bunga berada ditaman rumah, maka setiap pagi dan petang disirami oleh sang tuannya dan menjadi pujaan seisi keluarga. Jika bunga berada ditaman yang luas dan indah maka setiap pagi disirami dan ditata rapi oleh penjaganya dan menjadi dambaan dan kesukaan khalayak ramai karena keindahan yang disuguhkan sang bunga. Namun jika bunga berada di tepi jalan, nasib lah yang membawanya untuk bertahan dalam  keras arus kehidupan. Layu terkulai jika tidak ada hujan yang turun menyirami, berharap akan segar bila disapa embun pagi. Patah dan mati dipijak orang lalu, begitulah nasib bunga ditepi jalan.
Lain halnya dengan bunga ditepi jurang, meski perjuangannya begitu berat untuk bertahan hidup ditepi jurang, tapi sang bunga amat berharga. Tidak bisa dipetik sembarangan tapi hanya bisa dipandang. Hanya orang-orang berkeinginan besar dan kuatlah yang bisa mendapatkan bunga itu untuk bisa di bawa pulang.


Maka tidak ada salahnya kita seorang perempuan seperti bunga di tepi jurang. Meskipun tinggal jauh dan tidak populer namun tetap terjaga dengan relief alamnya.

#narasi artistik
"gadih_minang"

Deria Di Hujung Pagi

Deria Pagi Bundaran Park KLCC By: Titin Sabillah Langit biru, ditutupi awan yang berkabus putih, namun menyajikan kejernihan warn...